Minat baca dan kemampuan menangkap makna

Dalam satu dekade terakhir, kita sering menemui hoax tersebar dengan mudah dan cepat seperti nyala api dalam sekam, yang tidak terlihat membara namun menghanguskan dan memiliki skala yang cukup luas.

Mengapa orang begitu mudah menyimpulkan dari satu artikel atau berita tanpa memeriksa kebenaran dari artikel tersebut dengan melakukan riset kecil. Rasanya di saat ini, sangat mudah melakukan cek silang melalui mesin pencari, atau bahkan menemukan sumber primernya.

Dari beberapa tautan dan sumber primer, kita bisa lakukan analisa teks dan konteks dari artikel tersebut, atau bahkan kita bisa memahami sasaran utama kenapa artikel tersebut disebarkan

Meskipun kadang-kadang si penulis artikel tersebut tidak mampu menyampaikan opininya dengan benar melalui bahasa tulis, karena penempatan konteks dalam bahasa tulis dan bahasa tutur sangat berbeda.

Konteks

Konteks dalam bahasa tutur seringkali tidak perlu disampaikan karena konteks terbentuk dari atmosfer pertemuan dari dua orang atau lebih, seberapa dekat mereka saling kenal, dan diksi seperti apa yang mereka gunakan untuk berkomunikasi.

Sedangkan penempatan konteks dalam bahasa tulis harus dilakukan di paragraf pertama agar pembaca mampu menangkap makna keseluruhan dari artikel tersebut. Meskipun seharusnya, penempatan informasi konteks bisa dilakukan di paragraf manapun dari artikel, namun karena pembaca sering membaca secara acak dan tidak lengkap, maka sebaiknya paragraf konteks kita tempatkan di awal artikel.

Sebagai pembaca, sangat disarankan untuk membaca cepat artikel dan mencari paragraf yang menjelaskan konteks dari artikel tersebut. Konteks sering disampaikan secara eksplisit, kadang secara implisit. Yang sulit adalah menempatkan konteks secara benar saat penulis menyampaikannya secara implisit, bisa berupa diksi, logat, maupun tata kalimat. Karena penggunaan diksi yang salah, membuat pembaca salah membaca konteks.

Minat baca dan kemampuan membaca konteks

Kesalahan membaca konteks seringkali terjadi karena dua hal, yang pertama karena penulis lupa bahwa dia “berbicara” kepada publik, dan pembaca sering lupa bahwa di media sosial kita berkomunikasi secara personal dan seringkali penulis tidak memiliki kompetensi yang cukup di bidang yang dibahas meskipun cukup kompeten di bidang lain.

Apa yang sebaiknya kita lakukan sebagai pembaca

Pada dasarnya, kita harus mencari 2 bagian penting, yaitu konteks dan pokok pikiran. Jika penulis tidak menyampaikan 2 hal tersebut secara eksplisit, yang harus kita lakukan adalah melakukan cek silang dengan data yang ada di internet. Jika tidak ada referensi, tempatkan asumsi awal bahwa artikel tersebut tidak benar dan terus lakukan cek silang, berapa banyak data yang bertentangan, apakah data tersebut berasal dari sumber yang bisa dipercaya, apakah data berkesinambungan. Dari situ bisa disimpulkan apakah artikel tersebut bisa dipercaya atau tidak.

Leave a Reply